Seharusnya, dia ini sudah terbilas habis
Terseret arus waktu bukan pengampun
Terkerik oleh meander perjumpaan
Terbawa hanyut, jauh, menuju lautan tak bernama
Tempat semua ingatan yang terlupa bertanya-tanya kemanakah tuannya
Tetapi, terkejut yang terjadi
Terendap di delta kecewa dia berada
Berlumpur-lumpur, tersedimentasi batuan sesal
Tertimbun rasa dengki dan benci
Ditaburi butiran girang berkejap
Pada mula, dia berwarna cerah
Penuh antusiasme pancarkan gemerlap
Ingin rengkuh dunia penuh tahta
Penuh impian untuk bentuk nyata
Namun, oh!
Lihatlah dia!
Ironi!
Terpotonglah dia!
Tujuh bagian!
Keluhnya disimpan tak keluar
Deritanya dikecap tak tertawar
Sesekali, dia mengemuka
Menembus dahan ranting bijak yang menahan
Menelusup di antara belukar nasehat
Gelora kembali yang membutakan mata
Namun, sedih!
Teramat perih!
Permukaannya tidak lagi bercahaya
Tidak berdaya, tanpa asa
Gelaplah dia, suram
Telah jauh cinta dia dengan hitam
Mencekam selalu menyenangkan
Walau ada, jauh di dalam, dia yang tersisihkan
Entah bagaimana, kapan
Akan terpoleskan
Akan terpuaskan
Wednesday, March 23, 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment